Mahasiswa Terjebak Apatisme! IPMIL RAYA Tantang Generasi Kampus Bangkit Melawan Ketidakadilan

Mahasiswa Terjebak Apatisme! IPMIL RAYA Tantang Generasi Kampus Bangkit Melawan Ketidakadilan
Andi Muh. Fausan Aziman Kabid Pendidikan Tinggi Dan Kebudayaan PB IPMIL RAYA

Panglimanews.com– Sikap apatis mahasiswa terhadap berbagai persoalan bangsa dinilai semakin menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi intelektual, idealisme, dan gerakan kritis mahasiswa.

Di tengah berbagai persoalan sosial, politik, demokrasi, hingga ketimpangan keadilan yang terus menjadi perhatian publik, mahasiswa justru dituntut untuk tidak kehilangan keberanian dalam mengambil sikap.

Bacaan Lainnya

Fenomena apatisme tersebut bukan sekadar persoalan rendahnya partisipasi mahasiswa dalam ruang-ruang gerakan.

Lebih jauh, kondisi ini mencerminkan adanya ancaman terhadap fungsi historis mahasiswa sebagai kekuatan intelektual, kontrol sosial, sekaligus elemen moral yang memiliki tanggung jawab dalam mengawal arah perjalanan bangsa.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan PB IPMIL RAYA menyerukan kebangkitan kesadaran kolektif mahasiswa untuk kembali meneguhkan idealisme dan menjalankan tanggung jawab historisnya sebagai bagian dari kekuatan perubahan.

Menurutnya, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam orientasi akademik yang hanya mengejar capaian individual, gelar, dan kepentingan pribadi, sementara berbagai persoalan fundamental yang menyangkut kepentingan masyarakat berlangsung tanpa respons kritis dari kalangan intelektual muda.

Ia menilai, pendidikan tinggi seharusnya tidak melahirkan generasi yang hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, keberanian intelektual, serta kemampuan membaca dan merespons berbagai persoalan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika ketidakadilan dinormalisasi, demokrasi dipertaruhkan, dan kepentingan rakyat terabaikan, maka diam bukanlah pilihan yang dapat dibenarkan secara moral. Kita harus kembali menyadari bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk menjaga nalar kritis dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan,” tegasnya.

Apatisme Mahasiswa dan Kemunduran Tradisi Kritis

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kebangkitan gerakan mahasiswa tidak boleh dimaknai secara sempit sebatas demonstrasi, mobilisasi massa, ataupun aktivitas demonstratif lainnya.

Menurutnya, gerakan mahasiswa harus dibangun melalui kekuatan argumentasi, konsistensi intelektual, keberanian mengkritisi kebijakan publik, serta keterlibatan langsung dalam mengadvokasi berbagai persoalan masyarakat.

Sebab, gerakan tanpa landasan intelektual berisiko kehilangan arah, sementara intelektualitas tanpa keberanian mengambil sikap hanya akan melahirkan pengetahuan yang terisolasi dari realitas sosial.

Ia juga mengingatkan bahwa marwah mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah.

Nama besar gerakan mahasiswa dari masa ke masa tidak akan memiliki arti apabila generasi hari ini justru kehilangan keberanian untuk menghadapi persoalan zamannya.

“Jangan sampai mahasiswa hanya mewarisi nama besar perjuangan masa lalu, tetapi kehilangan keberanian untuk menjawab tantangan zaman. Marwah mahasiswa tidak terletak pada gelar, atribut, maupun romantisme pergerakan, melainkan pada keberanian berpikir, keteguhan bersikap, dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” lanjutnya.

Dalam pandangannya, mahasiswa harus kembali menempatkan diri sebagai kekuatan penyeimbang terhadap kekuasaan.

Kritik terhadap pemerintah maupun kebijakan publik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari tanggung jawab demokratis untuk memastikan kekuasaan tetap berjalan dalam koridor kepentingan rakyat.

IPMIL RAYA dan Tanggung Jawab Historis terhadap Luwu Raya

Dalam konteks tersebut, PB IPMIL RAYA diharapkan tidak sekadar menjadi organisasi yang menjalankan rutinitas kelembagaan, tetapi juga mampu mengambil peran sebagai ruang konsolidasi intelektual, organisatoris, dan perjuangan mahasiswa.

Organisasi harus menjadi tempat lahirnya kader-kader yang memiliki keberanian berpikir, keteguhan prinsip, serta kesadaran terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah Luwu Raya.

Ia menilai, tanggung jawab mahasiswa tidak berhenti pada persoalan kebangsaan dalam skala nasional.

Persoalan daerah, ketimpangan pembangunan, kepentingan masyarakat, serta masa depan Luwu Raya juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual yang tidak boleh diabaikan.

Karena itu, ia mengajak seluruh kader dan jajaran IPMIL RAYA untuk tidak membiarkan apatisme tumbuh menjadi budaya yang menggerus identitas perjuangan organisasi.

Ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa kader-kader IPMIL RAYA tidak semestinya terkontaminasi oleh kecenderungan untuk bersikap abai terhadap persoalan bangsa maupun daerah.

“Saya berkeyakinan bahwa kader-kader IPMIL RAYA tidak mungkin terkontaminasi oleh kecenderungan abai. IPMIL RAYA adalah tempat di mana kami tumbuh dengan doktrin yang kuat. Sampai hari ini pun saya masih percaya bahwa di atas hukum hanya ada sara dan kedaulatan daerah. Setidaknya itu yang kami pelajari di sini, di IPMIL RAYA,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, doktrin dan nilai perjuangan yang tertanam dalam diri kader seharusnya menjadi landasan moral untuk tidak tinggal diam ketika kepentingan masyarakat dan masa depan daerah dipertaruhkan.

“Setidaknya saya berkeyakinan bahwa setiap dari mereka yang memiliki doktrin serupa dalam benaknya akan merasa malu ketika berdiam diri di tengah kisruh yang menggerus kemakmuran daerahnya. NKRI pada umumnya, Luwu Raya pada khususnya. Jika mahasiswa hari ini memilih abai, namun tidak demikian dengan IPMIL RAYA,” tegasnya.

Sinyal Kebangkitan dan Konsolidasi Gerakan Mahasiswa di Makassar

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa IPMIL RAYA tidak ingin terjebak dalam aktivitas organisasi yang hanya bersifat administratif dan seremonial.

Organisasi dituntut membuktikan keberpihakan dan komitmen perjuangannya melalui tindakan nyata.

Di tengah situasi kebangsaan dan berbagai persoalan daerah yang menjadi sorotan, seruan tersebut juga dapat dibaca sebagai sinyal penguatan konsolidasi gerakan mahasiswa, khususnya di kalangan kader IPMIL RAYA yang berada di sejumlah kampus di Kota Makassar.

Meski belum merinci bentuk maupun waktu gerakan yang akan dilakukan, pernyataan tersebut memperlihatkan adanya dorongan untuk mengonsolidasikan kembali kekuatan intelektual dan organisatoris mahasiswa.

Apabila konsolidasi tersebut berlanjut menjadi gerakan kolektif, bukan tidak mungkin suara mahasiswa IPMIL RAYA akan kembali mengambil ruang dalam dinamika sosial dan politik, baik pada tingkat daerah maupun nasional.

Pada akhirnya, persoalan utama yang ingin disorot bukan sekadar apakah mahasiswa masih memiliki keberanian untuk turun ke jalan, melainkan apakah mahasiswa masih memiliki kesadaran untuk berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kepentingan masyarakat.

Sebab, sejarah tidak hanya mencatat mereka yang pernah melakukan perlawanan, tetapi juga akan menguji generasi yang hidup ketika ketidakadilan berlangsung di hadapan matanya.

Bagi IPMIL RAYA, momentum ini menjadi ujian terhadap konsistensi nilai dan identitas perjuangan organisasi.

Idealisme tidak cukup diwariskan melalui doktrin, slogan, maupun cerita heroik masa lalu.

Ia harus dibuktikan melalui keberanian mengambil sikap, kekuatan membangun konsolidasi, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Jika apatisme menjadi pilihan sebagian mahasiswa, maka IPMIL RAYA ditantang untuk membuktikan bahwa tradisi kritis dan semangat perjuangan tidak berhenti sebagai warisan sejarah.

Sebab, Luwu Raya tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang mampu berbicara tentang perubahan, tetapi juga mahasiswa yang bersedia berdiri dan mengambil tanggung jawab ketika masa depan daerahnya dipertaruhkan.

Editor : Darwis

Pos terkait