LANTIK–AMPERA Angkat Isu Ponsel Bebas, Lapas Bollangi Kembali Diguncang Aksi

LANTIK–AMPERA Angkat Isu Ponsel Bebas, Lapas Bollangi Kembali Diguncang Aksi
Surat Pemberitahuan Aksi

Panglimanews.com– Lapas Narkotika Bollangi, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, kembali terseret ke pusaran dugaan skandal serius. Sabtu (24/1/2026)

Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan narapidana dengan leluasa menggunakan telepon genggam dari balik jeruji besi, memantik sorotan tajam terhadap bobroknya sistem pengawasan di lembaga pemasyarakatan khusus narkotika tersebut.

Bacaan Lainnya

Temuan ini diungkap oleh Lembaga Aliansi Anti Korupsi (DPP LANTIK) melalui koordinator lapangan mereka, Yhoka Mayapada, berdasarkan investigasi dan riset yang turut melibatkan Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Rakyat Sulawesi Selatan.

Menurutnya, keberadaan ponsel di dalam lapas bukan sekadar pelanggaran tata tertib administratif.

Lebih dari itu, temuan tersebut dinilai sebagai indikasi kuat adanya pembiaran sistematis yang berpotensi membuka ruang bagi praktik kejahatan, termasuk dugaan peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam lapas.

“Jika narapidana bisa bebas berkomunikasi menggunakan ponsel, maka jeruji besi tak lagi berfungsi mengurung kejahatan,” tegas Yhoka Mayapada.

Sebagai bentuk perlawanan terhadap dugaan praktik kotor tersebut, aliansi memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Selatan.

Aksi dijadwalkan berlangsung pada Senin, 25 Januari 2026, mulai pukul 13.30 WITA hingga selesai, dengan estimasi massa lebih dari 50 orang.

Aksi ini mengusung tajuk keras:
“Narapidana Bebas, Jeruji Besi Tak Lagi Mengurung Kejahatan.”

Dalam aksinya, massa akan menyampaikan sejumlah tuntutan tegas, di antaranya:

  • Mendesak pencopotan Kepala Lapas Narkotika Bollangi yang dinilai gagal menjaga integritas dan keamanan lapas.

  • Menuntut pencopotan Kepala Pengamanan Lapas (KPL) yang diduga melakukan pembiaran.

  • Mendorong Kanwil Ditjenpas Sulsel melakukan pemeriksaan menyeluruh serta menjatuhkan sanksi tegas kepada petugas pengamanan yang diduga terlibat.

  • Mengusut tuntas dugaan jaringan narkoba yang diduga beroperasi dari dalam lapas.

Aliansi menilai, maraknya penggunaan ponsel di dalam lapas narkotika merupakan alarm keras bagi negara.

Kondisi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya pengawasan sekaligus membuka dugaan adanya keterlibatan oknum aparat.

“Aksi ini bukan sekadar demonstrasi. Ini peringatan keras bahwa lapas tidak boleh berubah menjadi markas kejahatan yang dilindungi oleh sistem,” pungkas Yhoka.

Editor : Darwis

Pos terkait