Panglimanews.com– Kursi panas Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah, kini tengah dalam guncangan hebat.
Bisik-bisik soal pengunduran diri sang pejabat tinggi mencuat ke permukaan di tengah panasnya pengusutan kasus korupsi sektor batubara.
Desas-desus ini bukan sekadar kabar burung. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan adanya dorongan dari level atas agar Febrie menanggalkan jabatannya akibat keterlibatan dalam perkara yang kini sedang dibongkar penyidik Polri.
Ketegangan di internal Kejaksaan Agung semakin terasa. Redaksi menerima salinan surat bernada instruksi mendesak yang memerintahkan seluruh jajaran kejaksaan, dari tingkat pusat hingga daerah, untuk mengikuti rapat konsolidasi virtual pada Kamis (9/7/2026).
Agenda rapat tersebut mencakup pembahasan krusial mengenai potensi Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT).
Pertemuan ini disinyalir sebagai langkah mitigasi darurat atas situasi yang sedang menyudutkan institusi tersebut.
Suasana di Gedung Bundar sendiri tampak tak biasa. Aktivitas para petinggi kejaksaan terlihat lengang, seolah ada yang sedang disembunyikan di balik dinding tebal gedung korps Adhyaksa tersebut.
Hingga saat ini, pintu klarifikasi masih tertutup rapat. Baik jajaran pimpinan maupun pusat penerangan hukum Kejagung memilih membisu, enggan merespons kabar miring yang kian menjadi bola liar di publik.
Semua ini bermula dari langkah berani tim gabungan Kortastipidkor Polri dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Aparat bergerak cepat menyisir 12 lokasi strategis sepanjang hari Rabu (8/7/2026) dalam rangkaian penggeledahan yang masif.
Hasilnya cukup mengejutkan. Tidak hanya dokumen, tim penyidik berhasil mengamankan barang bukti berupa uang tunai dalam berbagai mata uang asing, brankas tersembunyi, hingga tumpukan emas batangan dari lokasi yang diduga berkaitan dengan Febrie.
Langkah kepolisian ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas Febrie. Dengan temuan fisik yang fantastis tersebut, posisi Jampidsus kini seolah berada di ujung tanduk, menunggu kepastian apakah ia akan mundur atau memilih bertahan di tengah badai hukum yang kian nyata.
Editor : Darwis






